Setelah mass media diramaikan oleh kesuksesan team Sapu Angin dari Teknik Mesin ITS dalam kancah Shell Eco-marathon Asia di Sepang – Malaysia, sebenarnya ITS juga terlibat dalam 2 event yg berhubungan dgn kebaharian. Petualangan mereka juga tidak akan kalah seru …

Yang pertama adalah team ‘Spirit of Majapahit’, yang telah diberangkatkan dari Tanjung Priok pada tgl 10 Juli yang lalu. Ekspedisi ini terselenggara berkat kerja sama antara Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA-ITS) Jakarta Raya, serta Japan Majapahit Association.

Awak kapal tidak hanya terdiri dari mahasiswa ITS, tetapi gabungan dari beberapa mahasiswa dari PT lain juga yang telah lolos dari proses rekruitmen. Mereka harus memiliki ketrampilan yang diperlukan dalam ekspedisi tsb seperti mampu berenang dgn baik, pengetahuan kebaharian, pengetahuan navigasi laut, P3K dan juga wawasan kebudayaan ttg Indonesia, menguasai salah satu kesenian serta mampu berkomunikasi dalam bahasa asing.

Kapal tsb akan akan singggah terlebih dahulu ke Brunei Darussalam. Lalu kapal akan berlabuh ke Filipina, Jepang, China, Thailand, Vietnam, Singapura dan kembali ke Indonesia. Setelah kembali ke Indonesia, kapal akan di tempatkan di Museum Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur. Beberapa berita ttg ekspedisi adalah sbb:

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2010/07/10/108826/Kapal-Spirit-of-Majapahit-Berlabuh

http://www.spiritmajapahit.com/

Yang kedua adalah team Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Maritime Challenge yang berangkat ke Kanada. Mereka akan mengikuti event Atlantic Challenge International yang berlangsung pd tgl. 24-31 Juli di Midland – Canada.

Di event 2 tahunan ini team ITS telah mengikutinya sejak tahun 2002, dan di tahun ini mereka akan mempergunakan kapal Garuda Nusantara yang mereka buat sendiri. Kapal ini merupakan kelanjutan dari kapal Merdeka-1 yang dipergunakan pada event yg sama di Finlandia tahun 2008.

Team ini tidak hanya mewakili ITS, tetapi Indonesia. Bahkan bisa dikatakan mereka mewakili Asia-Pacific, karena dari region tsb hanya Indonesia yang mengikuti event ini sampai sekarang.

Selamat berjuang adik-adikku dan capailah hasil yang terbaik demi Indonesia …

http://www.antarajatim.com/lihat/berita/37277/lihat/kategori/15/Hukum

http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=7146

http://www.atlanticchallenge.org/member.html

Lama saya nggak menulis di blog ini, ada rasa kerinduan tersendiri untuk bisa berbagi pemikiran. Beberapa waktu yang lalu kami menghabiskan liburan di Malaysia dan Thailand. Sebenarnya Indonesia tidak kalah dibandingkan ke dua negara tetangga kita. Namun sayangnya Bali yang merupakan bagian dari Indonesia, jauh lebih dikenal daripada Indonesia. Adakah kesalahan dalam mengenalkan Indonesia kepada dunia?

Dulu setiap kali CNN menayangkan iklan Malaysia Truly Asia, masih diiringi musik dengan liriknya. Sekarang musik Malaysia Truly Asia sudah tidak asing lagi ditelinga orang, tanpa lirik pun orang sudah tahu itu adalah promosi Malaysia. Pencitraan Malaysia Truly Asia dengan promosi itu saya nilai sangat berhasil. Dan baru-baru ini saya terbang dengan Malaysia Airlines (MAS), yang memiliki kode penerbangan MH. Kembali saya dibuat kagum dengan usaha pencitraan Malaysia di mata dunia. Di ‘boarding card’ MAS tertulis (kalau tidak salah): MH – is not just an airline code, it is Malaysian Hospitality. Ini memperlihatkan keahlian  mereka membangun merek nasional. Belum kalau kita berbicara masalah Petronas yang jauh lebih dikenal daripada Pertamina, juga kemampuan Malaysia Airport Holding Berhad dalam mengelola KLIA untuk menjadi salah satu airport terbaik dunia.

Apakah saya merasa rendah diri dengan Malaysia? Tentu saja tidak, karena dulu sebenarnya Malaysia belajar dari Indonesia. Lalu mengapa kita berjalan di tempat, sedangkan mereka sudah jauh tinggal landas. Dimanakah kesalahan utama bangsa kita dalam mengelola negara ini?

Dulu Indonesia banyak mengirim guru dan dosen ke Malaysia, dan Malaysia mengirim mahasiswa-nya ke Indonesia. Sekarang kiblat pendidikan mereka sudah ke Eropa dan Amerika, tapi untuk kedokteran kelihatannya mereka masih melihat ke Indonesia. Saya pernah ketemu mahasiswa Malaysia yang kebetulan anggota UMNO muda, dalam perjalanan ke Jakarta untuk belajar kedokteran di salah satu universitas swasta.

Apakah pendidikan memang menjadi kendala utama bagi bangsa ini untuk maju? Apabila kita melakukan kilas balik sejarah bangsa dan negara ini, semua para pemimpin pergerakan kemerdekaan adalah orang-orang yang cerdik pandai. Dimulai dari dr. Wahidin, Soetomo, dr. Tjipto, M. Yamin, Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, Soekarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara dll, semua adalah orang-orang yang berpendidikan. Tanpa para pahlawan tersebut, mungkin negara ini tidak akan pernah berdiri dan berdaulat.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang ini? Pendidikan sudah lebih menjadi suatu komoditi dagang, bukannya sebagai prasarana untuk membangun bangsa dan negara. Kapankah pendidikan menjadi prioritas utama bangsa ini? Usaha Yohannes Surya dalam memperkenalkan fisika kepada generasi muda, merupaka salah satu mata rantai dalam memajukan pendidikan. Namun ini masih sekedar berhubungan dengan kemampuan nalar, bagaimana dengan pendidikan manusia seutuhnya itu sendiri?

Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani …. terima kasih Ki Hadjar Dewantara. Semoga bangsa ini segera menyadari pentingnya arti pendidikan, agar tidak semakin terpuruk di kemudian hari.

Oleh: sbaskoro | Desember 7, 2008

Browsing internet dengan PSP

Ada beberapa teman yang menanyakan ttg browsing internet di PSP. Uraiain adalah seperti di bawah ini.

Fasilitas akses ke internet di PSP sebenarnya masih belum memuaskan masih sangat lambat, tapi lumayanlah sambil main game sekali-kali bisa baca berita di website.

PSP yang dipakai anak saya adalah PSP-2006 cw (slim), firmware 3.71 M33. Wireless router yang saya pakai di rumah adalah LinkSys.

Setting up network di PSP adalah sbb.

Pertama-tama hidupkan PSP dan taruh WLAN pada posisi ON.

Pergi ke Network Settings 

Pergi ke Infrastructure Mode (Ad Hoc Mode untuk game sharing)

Pergi ke New Connection

Pergi ke Manual Setting (saya coba Scan, tapi kadang gagal)

Masukkan SSID wireless network yang dimaksud (contoh Nirkabel)

Apabila ada WLAN Security Setting pilih yang sesuai, di rumah saya set ke WPA-PSK.

Masukkan password yang sesuai dalam WPA Key

Ke Address Settings, saya pilih Easy

Setelah itu masukkan Connection Name, contoh Nirkabel

Terakhir bisa dilihat semua parameter yang dimasukkan di Setting List

Akhirnya kita harus save semua setting yang telah dilakukan.

Kemudian lakukan Test Connection, kadang-kadang ini gagal tapi coba terus (nggak stabil). Coba lagi dengan tekan segitiga, pilih Test Connection

Apabila berhasil, display seperti di bawah ini.

p10003162

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh akses website detik,com di PSP (pergi ke Internet Browser):

p10003222

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pilih display mode : Smart Fit

Oleh: sbaskoro | November 28, 2008

“Cableman team”

Ketika menjawab pertanyaan tentang kabel, saya jadi ingat jaman SMA. Waktu itu saya termasuk dalam team yang bertanggung jawab menyiapkan sound system pada waktu upacara juga lighting pada waktu ada acara pentas di sekolah. Team ini dapat sebutan ‘cableman’.

Pekerjaan terbesar yang kami tangani adalah waktu acara bazar dan pentas ketika perayaan lustrum sekolah. Acara rutin adalah upacara, malam inagurasi dan pentas seni tahunan. Dan sebagian besar ‘cableman’ juga merangkap team dekorasi.

Saya ingat beberapa teman ‘cableman’: Nugroho, ‘Tuse’, Tiyo, Yudi, Bagus … Ada yang jadi dokter, tentara dan tukang insinyur.

Oleh: sbaskoro | Oktober 15, 2008

Ramadhan dan Syawal 1429 H

Ramadhan tahun ini saya merasakan mendapatkan banyak hal yang sangat berarti. Masa-masa menjelang Ramadhan saya usahakan untuk diisi dengan membaca lagi buku-buku yang berhubungan dengan ibadah dan Islam, seperti:

 

  1. Puasa, tulisan Muhammad Rusli Malik
  2. Membangun Surga, tulisan Achmad Chodjim
  3. Intisari Islam, tulisan Prof. Dr. Muhammad Husaini Bahesyti dan Prof . Dr. Jawad Bahonar

Dan selama Ramadhan saya baca buku:

 

  1. Sejarah Hidup Muhammad, tulisan Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury
  2. Buku Pintar Agama Islam, tulisan Syamsul Rijal Hamid

Sedangkan selama bulan Syawal saya membaca lagi sebuah buku Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad tulisan Muhammad al-Ghazali.

 

Alhamdulillah, dengan membaca buku-buku tersebut membantu saya untuk lebih memahami lagi tentang Islam dan membantu untuk menghayati hidup ini dan membuatnya lebih bermakna.

 

Sayangnya saya nggak bisa mudik, karena anak-anak nggak libur. Lagipula di Kazakhstan nggak ada hari libur, tapi anak-anak saya minta untuk nggak masuk sekolah satu hari … alias membolos. Ini untuk membuat anak-anak ikut merasakan suasana Idul Fitri di rumah dan juga makna kembali ke fitrah setelah saling bermaaf-maafan.

 

Saya pun mohon maaf apabila dalam tulisan saya di blog ini ada yang membuat sakit hati atau saya tidak dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan karena keterbatasan saya.

 

Oleh: sbaskoro | Oktober 14, 2008

Ikutan BG Energy Challenge 2008 di Kazakhstan

Tahun ini merupakan ketiga kalinya Schlumberger ikut berpartisipasi dalam acara BG Energy Challenge. Acara ini merupakan gabungan antara kegiatan team work serta uji fisik dan mental.

 

Kali ini acara diadakan di Borovoye, di luar kota Astana, 220 km ke arah utara. Naik bis kira-kira 3 jam perjalanan. Pesertanya terdiri 36 team dari berbagai perusahaan minyak dan servis di Kazakhstan, perusahaan media, bahkan Air Astana (perusahaan penerbangan Kazakhstan) dan Delloite juga PWC (financial consultant). Dan kebetulan competitor Schlumberger seperti Halliburton, Baker Hughes dan Weatherford tidak ikut serta. Sehingga partisipasi Schlumberger dalam acara ini diapresiasi oleh perusahaan minyak.

 

Tujuan dari acara ini adalah pengumpulan dana untuk National  Paralympic Committee of Kazakhstan, dan kali ini terkumpul dana sebesar $108 ribu. Dari tahun ke tahun, peserta acara ini meningkat dan demikian pula dana yang terkumpul.

 

Acara ini banyak menggantungkan pada ketahanan fisik (lari, bersepeda, berenang), penggunaan GPS dan strategy. Untuk pencatatan waktu menggunakan electronic timing SPORTident.

 

Sayangnya acara ini bersamaan dengan bulan puasa, dan hari pertama saya dan seorang teman dari Pakistan bertahan untuk puasa. Akibatnya kami berdua cepat merasa kelelahan dan saya mendapatkan kram kaki (setelah lari dan bersepeda sejauh kira-kira 12 km), dan teman saya nggak bisa menyelesaikan satu tantangan panjat tali sehingga kami kehilangan point. Dan sebelumnya kami telah kehilangan point di salah satu stand karena nggak bisa menjawab pertanyaan yang konyol .. he he he … protes tapi nggak diterima.

 

Untuk event 1-2 kami banyak kehilangan waktu, dan bertengger di urutan ke 34 dari 36. Pada malam harinya kami berkompetisi berdayung dan berenang. Empat teman saya berdayung dan saya ‘nekat’ ambil berenang, kira-kira 100 m. Masya Allah, ternyata berenang di air bertemperatur 6-7 derajat Celcius terasa membekukan badan, hampir saja saya menyerah kalau bukan karena mendengar teriakan teman-teman yang menyemangati dari tepi danau.

 

Anyway, dari hasil event ke 3 posisi naik sedikit ke 31. Karena ternyata ada beberapa team yang nggak ‘nekat’ untuk berenang di air dingin. Pada saat perjalanan pulang dari danau ke kamp, badan terasa menggigil (walau sudah minum banyak teh hangat) dan kaki sempat kram keduanya.

 

Keesokan harinya kami lebih siap (mental dan fisik, saya dan teman Pakistan memutuskan untuk tidak puasa pada hari itu), di event ke 4 kami mencapai posisi ke 18. Dan untuk event terakhir, membuat pompa pralon dan mencari lokasi air yang terkontaminasi, kami mencapai posisi ke 7. Hasil akhir kami menduduki posisi ke 20 dari 36. Lumayan …. Yang penting tujuan utama untuk ‘having fun’ tercapai .. J

 

Photo-photo silakan lihat di Flickr.

Oleh: sbaskoro | Agustus 18, 2008

WHAT IS NEXT?

Kalimat di atas bisa berarti: apa itu NEXT? atau apa selanjutnya/kemudian?

Dari kata NEXT, bisa kita asosiasikan dengan beberapa hal. Bagi mereka yang suka belanja tentu tidak akan asing lagi dengan merek ini. NEXT salah satu merek terkenal untuk fashion, mulai dari baju hingga sepatu, bahkan hingga peralatan rumah tangga termasuk furniture.

Bagi mereka yang suka nonton film, NEXT adalah salah satu film yang dibintangi oleh Nicolas Cage.  Disini Nicolas berperan sebagai Cris Johnson, seorang tukang sulap yang mampu mengetahui apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Dia dicari oleh agen pemerintah untuk membantu menghentikan aksi teroris yang akan meledakkan bom nuklir.

NEXT juga tidak asing bagi mereka yang suka membaca novel fiksi Michael Crichton. Dalam novel ini Michael menulis sekitar riset genetika dan juga sisi hukum-nya. Cukup menarik, tapi kadang terkesan terlalu mengada-ada ketika monyet dan orang hutan (diceritakan di sekitar Berastagi) bisa bicara, juga seekor burung nuri yang bisa membantu mengerjakan PR matematika anak tuannya.

Atau juga NExT adalah Network of Excellent in Training yang dikelola oleh Schlumberger di bawah segment dimana saya sekarang bekerja, yaitu Data & Consulting Services (DCS). NExT memfokuskan pada training untuk industri perminyakan.

Nah untuk yang berarti: apa selanjutnya/kemudian? Ini menunjukkan rasa keingin-tahuan, apa yang akan dilakukan selanjutnya. Yang berarti juga ingin tahu apakah ada rencana tindak lanjut dari apa yang telah dilakukan sebelumnya, atau pencapaian yang telah didapat sebelumnya.

Ini seperti halnya bangsa Indonesia yang telah merdeka 63 tahun yang lalu. Setelah merdeka, apa selanjutnya? Benarkah semua bangsa Indonesia telah menikmati alam kemerdekaan ini? Apabila belum, apa yang perlu kita lakukan?

So, what is next?

Oleh: sbaskoro | Agustus 6, 2008

Pengalaman bekerja di daerah Kaspia (3)

Kazakhstan adalah negara yang terkaya dibandingkan ke-empat negara tersebut. Negara ini juga memiliki wilayah yang sangat luas (luas daratan adalah urutan ke-9 sedunia, sedangkan Indonesia urutan ke-16), dengan penduduk hanya sekitar 16 juta jiwa (bandingkan dengan Indonesia yang sekitar 220 juta jiawa). Kekayaan alam di Kazakhstan sangat berlimpah, mulai dari minyak (memiliki cadangan sebesar 9 miliar barrel, dengan produksi sekitar 1.3 juta bbl/d), gas alam, batu bara (juga CBM) dan uranium (ke-tiga di dunia setelah Canada dan Australia).

 

Walaupun memiliki cadangan minyak yang besar, Kazakhstan memiliki tantangan yang besar untuk memproduksinya. Terutama di daerah Tengiz (TCO) yang mengandung H2S di dalam reservoirnya. Juga struktur reservoir yang sangat kompleks (Karachaganak, Tengiz, Kashagan), sehingga membutuhkan teknologi yang cukup maju untuk bisa memproduksinya secara optimum. Bahkan produksi pertama dari Kashagan field harus tertunda hingga tahun 2012-2013, yang menimbulkan konflik antara operator dan pemerintah Kazakhstan.

 

Akhir-akhir ini Kazakhstan juga sedang memulai untuk bisa menghasilkan gas CBM dari daerah batu-bara sekitar Karaganda. Kebetulan perusahaan saya terlibat untuk field study CBM di daerah ini.

 

Uzbekistan dan Turkmenistan memiliki cadangan yang cukup besar untuk gas. Amu Darya basin yang terletak di perbatasan ke dua negara tersebut (bahkan sampai ke Afghanistan dan Iran), merupakan penyimpan cadangan gas alam yang sangat besar mencapai sekitar 200 Tcf.

 

Turkmenistan sekarang telah jauh terbuka dibandingkan pemerintahan yang lalu, dan memperbaiki hubungan diplomatiknya dengan Azerbaijan. Kedua negara tersebut sebenarnya dihubungkan oleh struktur reservoir yang memanjang di Laut Kaspia, mulai dari Baku – Azerbaijan hingga ke TurBalkanabat (dulu Nebitdag) – Turkmenistan. Dan terjadi konflik setelah bubarnya Uni Soviet untuk menentukan batas kedua negara di sekitar daerah kaya minyak ini. Dulu Iran pun hampir terlibat konflik dengan Azerbaijan, namun Turkey yang mendukung Azerbaijan segera mengirim pesawat tempur untuk bermanuver di atas Laut Kaspia.

 

Turkmenistan juga telah membuka pintu terhadap operator minyak besar lainnya seperti Chevron, ExxonMobil, BP. Yang jelas CNPC telah melangkah lebih jauh dengan mempersiapkan pipe line langsung ke China.

 

Uzbekistan pun juga sedang ramai didatangi oleh para investor minyak dan gas. Aral Sea bagian Uzbekistan juga sedang akan dieksplorasi, dan sebuah konsorsium pun telah dibentuk. Petronas pun mendapatkan tambahan konsesi karena hubungan G-to-G antara Uzbekistan dan Malaysia, padahal daerah ini dulu telah dijanjikan kepada Gazprom.

 

Kekayaan alam yang berlimpah di negara sekitar Kaspia tersebut, merupakan rahmat Tuhan yang sangat besar. Terutama dibandingkan dengan besarnya populasi di negara-negara tersebut yang relative sangat kecil dibandingkan dengan Indonesia (Azerbaijan 9 juta, Kazakhstan 16 juta, Uzbekistan 26 juta dan Turkmenistan 5 juta jiwa).

 

Dulu Hashim Djojohadikusumo punya bisnis minyak disini, dengan bendera Nations Energy yang berkantor di Kanada. Kedua perusahaan tersebut adalah JSC Karazhanbasmunai di Kazakhstan yang telah dijual ke CITIC group (perusahaan China) dan Karasu Operating Company yang baru saja di jual kepada Globa Energy Inc. yang berkantor di UK.

 

Apabila semuanya dikelola dengan baik, tidak mustahil sepuluh atau dua puluh tahun ke depan daerah ini akan menjadi daerah yang sangat kaya. Kazakhstan juga memiliki visi 2030, yang hampir mirip dengan salah satu wacana Indonesia 2030. Kazakhstan 2030 memiliki program jangka pendek 1 tahun, jangka menengah 3 tahun dan jangka panjang 5 tahun.

 

Ok, mari kita tunggu dan lihat apa yang akan terjadi di daerah ini sekitar 20 tahun lagi.

 

Oleh: sbaskoro | Agustus 6, 2008

Pengalaman bekerja di daerah Kaspia (2)

Kemudian pada bulan Oktober 2006, saya tidak menyangka apabila akan ditugaskan kembali ke daerah Kaspia. Namun untuk penugasan kali ini saya berkantor di Almaty – Kazakhstan. Almaty sudah jauh berbeda dibandingkan tahun 2003, suasana sebagai kota modern mulai terlihat. Yang berkebalikan dengan kota Baku yang mempertahankan arstitektur gedung-gedung kuno yang indah.

 

Kepindahan kami bertepatan dengan musim dingin. Untungnya kami masih menyimpan pakaian dingin pada saat di Azergaijan. Namun musim dingin di Almaty jauh lebih dingin daripada di Baku. Kadang-kadang bisa mencapai -25 derajat Celcius.

 

Kendala utama di Kazakhstan adalah komunikasi. Pada umumnya mereka tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dan menurut saya orang Kazakhstan lebih tertutup dibandingkan dengan orang Azerbaijan atau Uzbekistan. Sehingga terkesan mereka lebih arogan dan kaku.

 

Biaya hidup di Almaty jauh lebih mahal daripada kota besar lainnya di daerah Kaspia. Sewa apatemen seluas 180m2, dengan 3 kamar adalah USD4,500/bulan. Sedangkan di Baku masih hanya sekitar USD3,000/bulan. Demikian pula untuk makan di restaurant, biaya perorang adalah sekitar USD 50 – USD 100.

 

Namun Almaty memiliki posisi yang sangat indah. Dekat dengan pegunungan Tien Shan dan memiliki banyak danau di sekitarnya. Almaty juga jauh lebih hijau dibandingkan dengan Baku. Kami mencoba untuk menikmati segala kelebihan yang ada di Almaty, seperti anak-anak belajar ice skating, downhill skiing di Chimbulak (saya sudah mencobanya, dan betul-betul menyenangkan); serta tour di sekitar Almaty seperti Dastarkhan dan Tabagan.

 

Kota lain yang mirip dengan Almaty adalah Tashkent. Tetapi Tashkent jauh lebih besar dan memiliki system transportasi yang lebih lengkap, karena ada subway. Tashkent dan Baku memiliki subway yang cukup lumayan. Menurut teman saya, pada saat di bawah Uni Soviet dulu, setiap kota yang penduduknya mencapai satu juta jiwa harus memiliki subway. Mengapa Almaty sampai sekarang tidak ada? Karena pada tahun 1887 dan 1911 ada gempa bumi hebat yang menghancurkan sebagian besar bangunan di Almaty. Jadi pertimbangannya adalah adanya ancaman gempa bumi.

 

Bicara masalah biaya hidup, Almaty adalah yang termahal dan kemudian diikuti oleh Baku. Baku sekarang semakin mahal, terlebih setelah mata uang Azerbaijan Manat memiliki nilai tukar hampir 1:1.2 terhadap US dollar. Dulu pada tahun 2002 nilai tukarnya adalah 4900 Azeri Manat untuk USD 1.

 

Setelah Baku adalah Tashkent, dimana harga kamar hotel masih sekitar USD 50 – USD 70. Sebagai perbandinganya di Almaty dan Baku untuk harga kamar hotel yang standard sudah di atas USD 100. Akhir-akhir ini harga kamar hotel di Almaty sudah menggila, Hyatt dan Intercontinental yang dulu corporate rate sekitar USD 330 sekarang sudah USD 500.

 

Biaya hidup termurah adalah di Turkmenistan. Harga kamar hotel di Ashgabat hanya sekitar USD 45. Namun tidak lama lagi harga-harga akan naik, karena pemerintah setempat akan segera mengendalikan nilai mata tukar Turkmen Manat terhadap US dollar. Saat ini nilai tukar resmi adalah Turkmen Manat 6,500 terhadap USD 1, dan di pasar gelap adalah sekitar Turkmen Manat 15,500 (dulu sekitar Turkmen Manat 24, 000).

 

Orang Uzbekistan jauh lebih ramah dibandingkan dengan orang Kazakhstan. Mungkin karena Uzbekistan memiliki latar belakang sejarah yang lebih kuat, seperti halnya Timurlan, Imam Al Bukhari dll. Sedangkan Kazakhstan lebih banyak memiliki latar belakang sebagai bangsa pengembara (nomad).

 

Pada saat ini, negara-negara di sekitar Kaspia sebagai penghasil minyak yang cukup besar sedang menikmati keberuntungan karena harga minyak yang membumbung tinggi. Apalagi jika kita bandingkan dengan populasi yang ada di negara tersebut.

 

Azerbaijan dengan penduduk sekitar 9 juta jiwa, memiliki produksi minyak sebesar sekitar 800.000 bbl/d. Belum lagi ditambah dengan cadangan gas alam yang mencapai sekitar 4.4 Tcf. Baku pada saat ini sudah jauh berbeda dengan Baku tahun 2004. Gedung-gedung kuno banyak yang direnovasi/diperbaiki dan ditambah dengan penyinaran lampu yang indah. Sehingga pada waktu malam bisa terlihat keindahan arsitektur gedung tersebut. Jalan-jalan sudah diperlebar dan banyak dibangun jalan layang.

Oleh: sbaskoro | Agustus 6, 2008

Pengalaman kerja di daerah Kaspia (1)

Seperti halnya Nigeria, daerah Kaspia sudah tidak asing lagi bagi saya. Bisa dikatakan bahwa penugasan saat ini adalah penempatan saya yang ketiga kalinya di daerah ini.

 

Yang saya maksudkan dengan daerah Kaspia adalah negara-negara yang berada di sekitar laut Kaspia. Dalam hal ini khususnya adalah Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

 

Kunjungan untuk pertama kalinya adalah ke Baku – Azerbaijan, pada tahun 1997. Pada saat itu saya dalam masa transisi pindah tugas ke Belanda dari Balikpapan – Indonesia. Azerbaijan menghubungi manager saya, bahwa mereka membutuhkan seorang wireline field engineer untuk mengerjakan pekerjaan logging di lepas pantai Kaspia untuk sementara.

 

Terus terang saya tidak pernah membayangkan seperti apa kota Baku itu. Saya terbang ke Baku lewat Istanbul –Turki. Sesampainya di Baku saya harus meninggalkan passport saya di airport, dan itu memang sesuai dengan petunjuk dari kantor di Baku. Kemudian pihak imigrasi hanya memberikan secarik kertas. Dan syukurlah esok harinya, karyawan kantor telah mendapatkan kembali passport saya.

 

Ada teman saya yang komentar, kenapa saya suka bekerja di daerah yang ada konflik. Memang dulu Azerbaijan dan Armenia terlibat perang memperebutkan daerah Nagorno-Karabakh di sebelah barat Azerbaijan. Yang kemudian melalui PBB, peperangan dihentikan tahun 1993 tapi Azerbaijan harus kehilangan sebagian daerah tersebut.

 

Saya berada di Baku hampir selama 2 bulan, namun pekerjaan pada akhirnya dibatalkan. Akhirnya yang saya lakukan adalah mengatur wireline base sementara di CSM Base, dekat pabrik semen Garadag di luar kota Baku. Pada saat itu saya tidak banyak berhubungan dengan orang lokal, jadi saya nggak perlu belajar bahasa Rusia.

 

Lima tahun kemudian, tepatnya Agustus 2002, saya kembali ke Baku. Dan posisi saya telah berubah menjadi petrophysicist, yang pekerjaan utama adalah technical support untuk formation evaluation.

 

Baku telah berubah banyak pada saat itu. Sistem aplikasi visa di airport sudah lebih teratur, dan bisa didapatkan pada saat kedatangan. Asalkan kita telah mendapatkan surat undangan resmi dari kantor yang di stempel oleh kantor imigrasi.

 

Walaupun saya berkantor di Baku, tapi wilayah  kerja meliputi Azerbaijan, Turkey, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Namun usaha saya untuk mengunjungi Turkmenistan pada saat itu beberapa kali gagal. Hal ini berhubungan dengan wabah SARS dan pengeboman di Bali.

 

Beberapa kali saya mengunjungi Istanbul dan Ankara di Turkey. Ini merupakan perjalanan favorit saya. Di Istanbul saya mengunjungi daerah wisata seperti Aya Sofia, Mesjid Sulaiman, bazaar; kemudian makan di sebuah restoran di balkon sebuah gedung sehingga bisa menikmati suasana selat Bosphorus. Restoran ini berada di Istanbul di bagian Eropa.

 

 

Bekerja di Baku tidak banyak masalah, kebanyakan orang bisa atau setidaknya berusaha untuk bisa bahasa Inggris. Dan mereka lebih menggiatkan penggunaan bahasa Azeri.

 

Di Baku klien utama kami adalah BP. BP menempati kantor Villa Petrolia, yang dulu merupakan milik Noble (penemu dinamit). Sejarah minyak di Baku sudah terkenal sejak lama. Bahkan disebutkan bahwa orang di Baku telah memakai minyak dari dalam tanah, pada saat orang Eropa masih memakai minyak dari ikan paus.

 

Lapangan minyak Bibi Heybat di Baku adalah lapangan minyak tertua, terletak dekat pantai. Tempat ini pula pernah dijadikan tempat pengambilan gambar film James Bond “The World Is Not Enough”.

 

Pada saat itu saya sempat pula mengunjungi Almaty, Aktobe, Atyrau dan Aktau di Kazakhstan. Pesawat terbang yang dipakai pada saat itu adalah YAK-40, AN-24 atau TU-134

 

Lapangan terbang di Almaty pada saat itu masih dibangun. Penerbangan lewat Aktau di musim dingin pada saat itu sangat menyiksa. Karena pada saat transit ke Baku, kita harus menunggu di sebuah ruangan tanpa penghangat.

 

Tahun 2003 saya harus mengunjungi klien di Tashkent – Uzbekistan. Pada saat itu saya menginap di hotel Bumi, yang merupakan milik Bakrie (sekarang telah dijual ke orang Indonesia lainnya). Di Tashkent kita harus memiliki uang tunai, kartu kredit tidak bisa banyak dihandalkan.

 

Dan pada tahun 2004 bulan Maret, saya dipindah-tugaskan ke Nigeria. Di Nigeria saya tinggal selama 2,5 tahun.

 

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.