Hari ini, 11 Jan 2008, telah meninggal dunia pendaki gunung ternama Sir Edmund Hillary (warga negara Selandia Baru) pada usia 88 tahun, karena serangan jantung.
Dia pendaki puncak tertinggi di Mount Everest 8.850 m (29.035 ft) bersama Sherpa Tenzing Norgay pada tanggal 29 Mei 1953. Ini suatu pencapaian yang sangat luar biasa ketika peralatan mendaki gunung masih sederhana, terutama dengan peralatan oksigen yang masih primitif.
Dia orang yang sangat rendah hati, dan tidak menjadi sombong dengan prestasinya tersebut. Bahkan dia menganggap dirinya sebagai orang ‘mediocre’, orang biasa. Tapi ini justru menunjukkan kebesaran hatinya, untuk memotivasi setiap orang agar bisa mencapai suatu prestasi luar biasa hanya dapat dilakukan dengan suatu tekad yang membaja.
Sir Ed sering menyebut bahwa yang menjadi pahlawan sebenarnya adalah Sherpa Tenzing. Hal ini menunjukkan kualitas kepribadian yang adi luhung, yang tidak menonjolkan dirinya semata.
Kepergian Sir Ed mungkin tidak setragis seperti perginya pendaki gunung Indonesia yang saya kagumi yaitu Norman Edwin. Norman Edwin bersama Didiek Samsu Wahyu Triachdi meninggal dunia tahun 1992 ketika melakukan ekspedisi pendakian gunung Aconcagua (6.959 m) di Amerika Selatan (perbatasan Argentina-Cile). Nama mereka juga tercantum di website Aconcagua.com.
Norman Edwin juga seorang wartawan lepas, saya dulu sering membaca tulisannya di Kaonak. Pertama kali ketemu dia, pada waktu Norman menjadi pembicara di salah satu forum di CCF Surabaya. Lupa tanggalnya, dan tanda tangan dia pun entah kemana.
Kini mereka telah tiada … keberanian itu yang selalu membuat hati ini tergetar. Totalitas mereka tidak membendung kerinduan mereka untuk menggapai ketinggian. Selamat jalan kawan … kini kamu semua berada diketinggian yang tidak akan tergapai oleh kami semua.
Kadang saya sering bertanya, apa yang kita cari di sana. Ketika puncak telah tercapai, tangan saling bergandengan, rasa haru-senang-puas-syukur bercampur aduk. Pada akhirnya setiap orang membawa kenangan manis dan rasa syukur masing-masing ketika menuruni sang gunung.





