Oleh: sbaskoro | Oktober 28, 2007

Berapa kali kita pindah rumah?

Coba kita hitung berapa kali kita pindah rumah sejak lahir di dunia ini. Saya lahir di Madiun tahun 1967, dua tahun kemudian karena ayah saya ditugaskan ke Sigli (Aceh) maka kami sekeluarga pindah ke sana. Ini merupakan rumah kami kedua (tapi rumah dinas lho …). Dua tahun kemudian kami pindah ke Bandung, di sebuah kompleks perumahan dekat Nurtanio. Di sini kami sempat pindah dari satu rumah ke rumah yang lain, berarti kami sudah menempati rumah yang ke-empat. Di Bandung ini saya sudah mulai memiliki kenangan indah tentang tempat di mana saya tinggal. Saya punya banyak teman dan kami selalu bermain di halaman depan kompleks ini. Kompleks ini dulu dikelola oleh Eyang Sudir, saya sempat menengok ketika Eyang Sudir Putri masih hidup tetapi sudah sakit-sakitan (sekitar tahun 1988).

Pada waktu meninggalkan Bandung rasanya cukup berat, karena kami sudah merasa begitu dekat dengan lingkungan sekitar rumah. Dari Bandung kami pindah ke Yogyakarta tahun 1973. Di sini saya sekolah dari SD kelas 1 sampai dengan kelas 3. Waktu itu saya sudah suka ‘keluyuran’ kemana-mana. Bersama teman-teman jalan kaki ke daerah Semaki dan menyusuri Kali Code sambil bawa ketapel. Kemudian kami meninggalkan rumah ke-5 ini menuju Semarang, namun kakak saya tetap tinggal dengan Pak Lik dan Bu Lik karena sudah kelas 6 dan ingin tetap sekolah di Yogya. Di Semarang saya tinggal cukup lama, dari SD kelas 3 sampai lulus SMA. Jadi di rumah ke-6 ini saya tinggal sekitar 10 tahun.

Dari Semarang saya harus ke timur menuju Surabaya, karena saya diterima di ITS. Nah, dari sana kebiasaan pindah-pindah ini kebawa sampai sekarang. Kalau dulu antar kota, sekarang antar negara. Lalu apa untungnya pindah-pindah rumah? Dan apa kekurangannya? Terus terang saya beruntung bisa mengalami tinggal di beberapa kota, dan saya merasa di rumah sendiri ketika berkunjung ke kota-kota itu. Kecuali saya belum pernah mengunjungi lagi Sigli. Kekurangannya adalah saya tidak memiliki teman atau sahabat dekat dari masing-masing kota tersebut. Yang jelas teman-teman dari Semarang (SMA) dan waktu kuliah saja yang masih sering berhubungan . Terus terang saya orangnya malas untuk berkirim surat. Dan pada waktu itu belum ada e-mail atau sarana komunikasi lainnya, telephone pun masih sangat mahal.

Itulah masa kecil dan muda saya yang sering pindah-pindah rumah. Sampai kini pun saya masih pindah-pindah rumah bersama keluarga saya, hampir setiap 2-3 tahun. Saya mencoba untuk punya satu tujuan tetap di Indonesia agar anak saya tidak menjadi ‘rootless’. Untungnya kami pernah tinggal cukup lama di Bintaro, sehingga anak-anak punya beberapa teman di sana. Saya dan isteri pun juga punya teman-teman yang masih berhubungan, ‘keep in touch’. Kadang kami merindukan untuk bisa tinggal disatu tempat, dan kemudian menikmati sisa kehidupan disana. Anyway, itu semua tergantung saya ketika sudah pada waktunya untuk mengatakan ‘enough is enough’.

Dan bagaimana dengan anda semua?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: