Oleh: sbaskoro | Oktober 29, 2007

Berawal dari rumah masing-masing

Sedemikian banyaknya permasalahan yang ada di negara kita, kadang memunculkan pertanyaan dari mana kita akan memulai untuk memperbaikinya. Bagi saya sederhana saja, mulailah dari rumah kita masing-masing. Dan ini berlaku untuk yang masih lajang ataupun sudah berkeluarga. Rumah sebagai tempat bernaungnya komponen terkecil dari suatu masyarakat memiliki peranan yang penting dalam menjaga tatanan yang ada dalam masyarakat. Rasa saling menjaga dan mengasihi seharusnya berasal dari dalam keluarga. Apabila seorang anak tidak bisa menghormati orang tuanya atau sebaliknya apabila seorang ayah/ibu tidak bisa memelihara dan menjaga anaknya, lalu bagaimana sikap dan tingkah laku mereka dalam masyarakat?

Banyak kita dengar para pejabat yang mengatas-namakan kesibukan dalam mengurus negara, maka melupakan peranan mereka sebagai orang tua. Sering kita dengar anak pejabat A terlibat dalam kasus narkoba atau anak pejabat B terlibat dalam tawuran. Bahkan tidak jarang bahwa keluarga mereka pun tidak karuan, yang ada skandal dengan perempuan lain sehingga rumah tangga bercerai-berai. Dampak psikologis terhadap anak baru terlihat setelah mereka terjun dalam masyarakat. Kalau mereka tidak bisa mengurus keluarganya, apakah mereka akan sanggup mengurus negara ini?

Memperhatikan keluarga bukan berarti kita harus menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan pemasukan yang cukup untuk membiayai segala keperluan rumah tangga. Saya masih ingat pesan dari guru ngaji, berilah nafkah keluargamu dari penghasilan yang halal. Orang yang selalu mencukupi kebutuhannya dengan makanan yang halal, maka akhlaknya akan baik, hatinya akan bersih, dan selalu memiliki pemikiran yang positif. Karena tidak ada hal-hal yang perlu dicemaskan, maka hidupnya akan mengalir lancar dan memiliki kesempatan untuk mengabdikan hidupnya untuk masyarakat.

Masih ingat tentang PKK? Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, yang saya dengar ini dicetuskan oleh Ibu Isriati Moenadi (Isteri Gubernur Jawa Tengah). Gerakan PKK, dengan 10 Segi Pokok PKK, dulu begitu memasyarakat, dan memberikan bekal yang baik bagi ibu-ibu dalam membantu sang bapak dalam menangani kehidupan keluarga. Saya lihat PKK masih banyak dicantumkan di website-website Pemda. Waktu di Semarang dulu saya juga pernah ikut siskamling. Saya menggantikan ayah saya yang dinas di kota lain. Ada keasyikan tersendiri ketika dapat mendengarkan pembicaraan bapak-bapak yang ikut siskamling, mulai dari jaman muda mereka, tentang Soekarno dan tentang jaman Soeharto.

Saat ini sepertinya masyarakat terlihat lebih egois. Setiap orang-orang dikejar-kejar waktu untuk bisa mendapatkan pemasukkan yag cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dalam kondisi seperti ini sebenarnya peranan pengurus RT/RW bisa membantu dalam mendekatkan kembali para anggota masyarakatnya dalam berbagai bentuk kegiatan, tidak hanya dalam acara 17 Agustus-an (mending kalau kegiatan ini masih ada, dibeberapa tempat saya dengar sudah sepi?). Namanya saja Rukun Tetangga/Rukun Warga, jadi misi utamanya adalah untuk merukunkan para tetangga dan warganya. Jadi tidak sekedar membuat surat keterangan untuk membuat KTP. Menumbuhkan komunikasi sambung-rasa (eh ini istilahnya Harmoko?) itu penting, sehingga ada kepedulian sosial dalam masyarakat.

Nah pada intinya kita harus kembali ke keluarga masing-masing (bukan kembali ke laptop ya …seperti kata Tukul). Perhatian pemerintah untuk membantu menyejahterakan keluarga sangatlah diperlukan, dengan sendirinya akan memberikan dampak yang positif pada negara.

Bagaimana menurut anda?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: