Oleh: sbaskoro | November 5, 2007

Pendidikan-Pekerjaan-Pengabdian

Akhir-akhir ini banyak disoroti tentang anggaran Pemilu 2009 yang diajukan KPU lebih tinggi daripada anggaran pendidikan setahun (2007), yaitu Rp47.9 triliun dibanding dengan Rp44 triliun. Walaupun akhirnya banyak ralat disana-sini, namun bisa dilihat bahwa pendidikan belum merupakan prioritas utama dari para pemimpin negara ini. Pendidikan hanya dipandang sebelah mata dan dianggap bukan prioritas penting dalam proses pembangunan bangsa.

Namun pendidikan juga tidak bisa berdiri sendiri. Apa sih tujuan akhir dari pendidikan? Dari sisi negara, mereka diharapkan akan menjadi generasi penerus yang cerdas dan tangguh dalam ikut serta dalam membangun negara. Dan dari sisi masyarakat atau keluarga, mereka diharapkan untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang baik sehingga dapat membantu keluarga mereka nantinya. Jadi penciptaan lapangan kerja pun penting untuk bisa mempertahankan generasi penerus yang terdidik tersebut untuk tinggal di negara ini. Sehingga tidak terjadi ‘brain drain’ ke luar negeri. Ah, alasan klise …mungkin demikian jawaban banyak orang. Emangnya lu nggak bisa kerja di perusahaan negeri sendiri. Nah ini tergantung seberapa besar cita-cita seseorang dan seberapa jauh yang ingin mereka capai. Kalau hanya mau sekedar kerja sih bisa saja, tapi ini tentunya tidak akan bisa berbuat banyak bagi yang lain. Pendapatan yang ada hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Masih ingat dengan program Habibie dulu, yang menyediakan dana besar untuk menyekolahkan putera-puteri Indonesia ke luar negeri? Mereka dibagi-bagi dibawah beberapa instansi seperti LIPI, Bakosurtanal, LAPAN, BPPT, dll. Berapa persen dari mereka masih bertahan di instansi masing-masing? Banyak yang ‘desersi’ karena mereka tidak mendapatkan yang sebagaimana diharapkan. Ada beberapa dari mereka yang bertahan di luar negeri pada saat untuk pendidikan yang berikutnya. Nah, salah siapa? Masihkah diharapkan adanya rasa pengabdian kalau kecerdasan dan kepandaian mereka tidak dihargai sebagai mana mestinya? Lain halnya bagi mereka yang tidak punya pilihan, yah nikmati saja yang kita dapatkan di sini.

Hubungan pendidikan-pekerjaan-pengabdian tidak dapat dipisahkan begitu saja. Banyak pula orang pintar yang karena tidak mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan sesuai, maka dengan kepintarannya disiasatilah sistem yang ada sehingga bisa mendatangkan rejeki yang lebih. Nah, kejahatan seperti ini jauh lebih kejam dari para pencuri ayam atau sepeda motor. Orang yang menderita jauh lebih banyak, bahkan negara pun bisa kekurangan anggaran untuk pendidikan. Ah itu lagi….

Untuk bisa membuat rumah kita, Indonesia, menjadi rumah yang membahagiakan bagi setiap warganya memang bukan pekerjaan yang mudah. Namun kita bisa melihat dari keseriusan mereka. Sudahkan para pemimpin kita sekarang serius dalam melakukakan pekerjaannya..eh pengabdiannya?

Sebagian orang berpikir pendidikan itu penting. Dan setelah dapat pendidikan mau apa? Apakah semua orang bisa menciptakan pekerjaan sendiri? Apakah negara bisa menyediakan pekerjaan bagi semua orang?

Sekarang kita lihat dari ujung yang lain. Yang penting dapat pekerjaan. Bagaimana bisa dapat pekerjaan kalau pendidikannya nggak jelas. Nah itu banyak yang pakai ijasah palsu bisa duduk di DPRD. Oalah kalau mereka itu orang yang sudah nggak peduli, yang penting perut sendiri kenyang dengan mengatas-namakan penderitaan rakyat. Untuk mereka sudah nggak peduli pendidikan dan pengabdian.

Nah, kalau pemerintah ingin serius dengan pendidikan maka perlu dipikirkan pula penampungan akhirnya. Dengan menciptakan kondisi yang kondusif untuk berusaha maka akan membantu menciptakan lapangan pekerjaan. Jangan sampai atas nama PAD, maka menghalalkan segala cara untuk melakukan pungutan kepada para pengusaha. Ya terang aja mereka pada ngeloyor pergi … pengangguran? EGP ah…

Pengabdian bisa dalam berbagai skala. Skala yang terkecil adalah ketika setiap individu atau keluarga mampu memenuhi kebutuhan masing-masing. Anggota masyarakat tidak akan saling merepotkan, penduduk desa tidak perlu datang ke kota besar untuk menyambung hidup. Dan skala yang terbesar tidak ada batasnya. Yang selayaknya adalah semakin tinggi kedudukan kita, maka semakin besar pengabdian yang diharapkan dari kita.

Jadi pendidikan, pekerjaan dan pengabdian adalah saling terkait. Pemerintah harus memikirkannya dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Bukan hanya berpikir keras ketika waktu pemilu telah menjelang.


Responses

  1. this laporan is very good sekali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: