Oleh: sbaskoro | November 6, 2007

Kaderisasi dimana saja dan kapan saja

Akhir-akhir Indonesia bangga dengan beberapa prestasi yang diraih oleh putra-putrinya dalam beberapa ajang kompetisi sains internasional. Sebutlah tim Indonesia yang berhasil menggondol 1 emas, 3 perak dan 1 perunggu dalam ajang Olimpiade Fisika Internasional (IphO) 38 yang digelar di Isfahan Iran. Kemudian meraih 1 emas, 1 perak dan satu perunggu di Olimpiade Biologi Internasional di Saskatoon, Saskatchewan, Kanada. Juga berhasil meraih sukses dengan memenangkan dua medali perak dan dua medali perunggu pada International Chemistry Olympiad (IchO) ke-39 di Moskow, Rusia. Serta prestasi Tim Olimpiade Matematika Indonesia berhasil meraih medali perak dan Honorable Mention di ajang Olimpiade Matematika Internasional (International Mathematics Olimpiad/IMO) di Hanoi, Vietnam. 

Ditengah-tengah maraknya pembahasan tentang perlu-tidaknya ujian nasional, juga gencarnya pemikiran tentang sekolah rumah; putera-puteri Indonesia tersebut mampu menunjukkan prestasinya di ajang internasional. Seakan-akan mampu menutupi carut-marutnya sistem pendidikan yang ada di negara ini. Yang jelas hal ini menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Kemudian tergantung proses selanjutnya bagaimana negara ini mampu menunjang dan memberikan peluang bagi putera-puterinya yang mumpuni tersebut untuk ikut serta dalam pembangunan bangsa ini. 

Apakah negara ini hanya membutuhkan orang-orang pandai saja? Yang tidak mempedulikan kondisi disekitar mereka? Banyak sekarang ini sekolah-sekolah yang memberikan tempat spesial bagi anak-anak pintar dalam kelas khusus. Menurut pendapat saya hal ini akan membuat anak-anak tersebut terlepas dari kehidupan nyata, bahwa tidak semua orang sepandai mereka. Kepekaan dan toleransi mereka terhadap sesama  tidak akan terasah, dan bisa semakin tumpul. Yang perlu kita tanamkan kepada mereka prestasi pribadi bukanlah segalanya dalam hidup ini, namun kebersamaan dalam mencapai tujuan yang baik akan memberikan hidup lebih berarti. 

Teringat akan guru SD saya dulu yang memberikan misi khusus kepada anak-anak yang dianggap pandai untuk membantu rekan mereka dalam mengejar ketinggalan dalam pelajaran. Kami dibagi dalam beberapa kelompok, dan diberi keleluasan dalam membantu teman kami dengan segala cara yang bisa mereka pahami. Walhasil semua anak-anak dalam kelas kami bisa lulus semua. Kami tidak merasakan pada saat itu sebagai suatu hal yang luar biasa, namun membuat kami merasa bahwa membantu sesama sudah merupakan bagian dari kehidupan ini.  

Sadar atau tidak, kurikulum yang disusun oleh badan yang berwenang menangani pendidikan di negara ini juga merupakan salah satu proses dari pengkaderan bangsa ini. Kita cenderung menganggap bahwa pengkaderan hanya terjadi di partai-partai atau organisasi binaan partai. Sebenarya dalam kehidupan sehari-hari telah terjadi proses pengkaderan. Orang tua yang sukses dalam karirnya  menginginkan anaknya menjadi orang sukses seperti dia, juga melakukan pengkaderan kepada anaknya. Masyarakat yang ada sebenarnya terlibat dalam proses pengkaderan juga. Masyarakat yang tidak perduli akan menciptakan generasi berikut yang tidak perduli juga. 

Kalangan militer yang kita pandang sudah memiliki proses pengkaderan yang lengkap pun masih belum puas dengan yang mereka miliki. Pak Benny Moerdani pun membuat pengkaderan lebih awal dengan gagasan mendirikan sekolah Taruna Nusantara, yang akan memberikan bibit-bibit muda yang lebih mendekati apa yang mereka harapkan. Terlepas nanti mereka akan masuk militer atau tidak, kurikulum yang ada sudah mengarah ke sana. Taruna Nusantara memiliki kurikulum khusus yang akan menanamkan kepemimpinan, kenusantaraan dan bela negara. 

Partai yang merupakan bagian dari pengkaderan untuk kalangan sipil, masih mengandalkan kepada totalitas pengabdian para anggotanya. Sejauh mana kualitas dan integritas tidak terlalu diperdulikan, asal mereka mampu menarik para pengikut dan menjadi vote getter. Penulis pernah mambaca ada salah satu partai yang menjunjung tinggi kualitas dan integritas orang yang menjadi anggota partai tersebut. Partai ini tidak peduli bahwa partainya tidak memiliki banyak anggota, sepanjang perjuangan partai sesuai dengan visi dan misi mereka. Semoga partai ini bisa langgeng dan mampu mewujudkan cita-citanya dalam membangun bangsa ini. 

Kembali kepada sistem pendidikan, lingkungan masyarakat dan sistem politik kita, mampukah kita mempersiapkan pemimpin mendatang yang berkualitas? Para pendiri negara ini dulu adalah para cerdik pandai. Sebut saja mulai dr. Wahidin, Haji Agus Salim, Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Moh. Yamin dll mereka semua adalah orang-orang pintar, mampu berdiplomasi dengan bangsa lain minimum dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Kepandaian mereka tidak dipakai untuk memperkaya diri sendiri, tetapi mendahulukan kepentingan nasional diatas kepentingan sendiri. Hasilnya adalah Indonesia merdeka yang kita nikmati bersama saat ini. 

Bangsa ini tengah dililit oleh euphoria yang berlebihan. Mulai dari gerakan reformasi, otonomi daerah yang kebablasan, amandemen UUD ’45 yang mengubah sistem kenegaraan yang ada, hingga dengan calon indepedent. Dan yang terakhir anggota DPD yang ingin mengamademen UUD ’45 lagi. Semua mengalir hampir tanpa kontrol, yang membuat masyarakat kita semakin bingung. Untuk siapakah sebenarnya itu semua? Rakyat masih banyak yang menderita, namun perhatian negara ini semakin terkuras pada pembahasan masalah politik dan urusan pemerintahan yang tidak jelas arahnya.  

Marilah kita berpikir sejenak, dan merenung untuk memecahkan permasalahan  yang lebih krusial. Negara ini seakan-akan selalu dalam kondisi darurat, ‘full of fire fighting’.Kita membutuhkan orang orang pandai, yang memiliki kepekaan sosial dan mampu membuat bangsa ini untuk bersatu padu memecahkan masalah secara bersama. Kita cenderung untuk mengharapkan munculnya pemimpin dalam keadaan darurat. Haruskah negara ini selalu dalam kondisi darurat untuk memunculkan seorang pemimpin? Kita sudah menyepakati bahwa seorang presiden maksimum bisa memimpin dalam masa dua periode. Jadi sebenarnya secara sadar bahwa setidaknya setiap sepuluh tahun sekali atau lima tahun sekali apabila presiden yang kita pilih tidak becus, kita sudah harus memiliki figur seorang pemimpin yang siap kita pilih sebagai seorang pemimpin negara. 

Apabila kondisi negara selalu dalam keadaan seperti ini, proses pemunculan pemimpin hanya bisa diserahkan kepada kondisi darurat dan seleksi alam. Proses kaderisasi ini harus merupakan usaha bersama dan proses yang kita sadari, bukan hanya menjadi dominasi para politisi kita tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Pemberian akses pendidikan bagi seluruh rakyat juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Pola pikir untuk memberikan paket-paket khusus bagi orang miskin pun harus ditinggalkan. Usaha untuk memakmurkan mereka dengan memberikan pendidikan dan pekerjaan yang layak lebih merupakan modus yang tepat. Sehingga kita tidak disibukkan lagi dengan pemikiran bagaimana mengamankan paket-paket tersebut untuk tidak jatuh ketangan orang yang tidak berhak. Dan tidak hanya membuat mereka sebagai objek kebaikan hati rejim yang berkuasa, dan menggiring mereka untuk memberikan suaranya untuk kelanggengan kekuasaan mereka. 

Marilah kita kader rakyat ini dalam mempersiapkan masa depan bangsa ini. Kita tidak perlu susah-susah memikirkan Visi Indonesia 2030, tapi kejarlah kemajuan negara tetangga kita Malaysia ”Truly Asia” (yang dulu pernah belajar dari Indonesia) lebih dahulu, baru kita bicara lebih dari yang itu. Dan supaya mereka tidak memandang dengan sebelah mata kepada Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: