Oleh: sbaskoro | November 13, 2007

Energi, energi, energi

Dikemudian hari, negara yang mampu memanfaatkan energi dengan baik akan memiliki kemampuan bersaing yang lebih kuat dan akan lebih survive. Oleh karena itu pemahaman tentang energi sangatlah penting bagi suatu negara dan masyarakatnya. Pemanfaatan energi tidak hanya melibatkan usaha-usaha bagaimana kita medapatkan energi tersebut, tetapi juga kebijaksanaan kita untuk mempergunakan energi yang dihasilkan. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya ingin berbagi pemikiran tentang energi.

Sumber energi

Di setiap kegiatan yang kita lakukan selalu membutuhkan sumber energi, mulai dari tubuh kita yang membutuhkan makanan sampai dengan peralatan mesin yang ada di pabrik-pabrik digerakkan oleh tenaga listrik. Perbedaannya adalah makanan merupakan sumber energi, sedangkan listrik adalah energi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air atau sumber energi yang lain. Energi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai besaran skalar fisik yang tersimpan dalam suatu benda atau sistem secara alamiah. Berbagai bentuk energi misalnya kinetik, potensial, panas, electromagnetic, kimia, nuklir dan massa. 

Energi yang kita butuhkan didapatkan dari suatu sumber energi dengan mengubah energi yang tersimpan didalamnya. Misalnya energi yang tesimpan dalam makanan diubah menjadi energi yang dibutuhkan oleh tubuh kita secara kimiawi melalui proses metabolisma. Energi listrik yang ada di rumah kita berasal dari energi kinetik dan potensial yang tersimpan dalam air yang tertampung di sebuah bendungan. Energi ini diubah menjadi listrik dengan melewatkan air melalui pipa ke generator listrik yang letaknya lebih rendah dari air, sehingga aliran air yang menyimpan energi kinetik menggerakkan turbin yang pada akhirnya menggerakkan generator listrik.

Menurut hukum kekekalan energi, energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tapi bisa diubah dari satu energi ke energi yang lain. Namun untuk mendapatkan sebagian besar energi yang kita butuhkan, suatu sistem harus efisien sehingga tidak terdapat rugi-rugi (losses) dalam proses pengubahan energi.

Sumber energi dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu sumber energi yang tidak dapat terbarukan dan sumber energi yang dapat terbarukan. Sumber energi yang tidak dapat terbarukan pada umumnya berasal dari fossil. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah minyak , gas dan batubara. Sumber energi minyak banyak dipakai karena kemudahannya untuk dikemas, relatif lebih aman daripada gas dan energi yang dihasilkan cukup besar. Sumber energi gas lebih kompleks untuk penyimpanan, sehingga akan lebih ekonomis apabila langsung dipakai. Beberapa industri pupuk dan pembangkit listrik tenaga gas dibangun dekat dengan sumur-sumur penghasil gas. Untuk transportasi dengan kapal tangker, gas harus dicairkan dan diubah menjadi liqufied natural gas (LNG). Sumber energi gas yang berhubungan dengan batubara seperti Coal Bed Methane (CBM), telah banyak dipakai pula.

Batubara sebagai bahan bakar padat telah banyak dipakai di indutri. Dengan teknologi baru dapat pula didapatkan bahan bakar cair  dan gas dari batubara. Teknologi ‘coal to liquid’ telah banyak dipakai di South Afrika yang diaplikasikan oleh SASOL, teknologi ini sebenarnya berasal dari Jerman. Sumber minyak tidak konvensional lainnya adalah tar sands, yaitu campuran antara pasir, air dan heavy oil. Tar sands banyak terdapat di Canada dan Venezuela.

Ada beberapa sumber energi lain yang masih dalam tahap penelitian yaitu ‘oil shale’ dan ‘methane hydrate’ adalah diantaranya. Methane hydrate telah banyak menarik perhatian karena potensinya untuk mensuplai kebutuhan energi yang bisa mencapai ribuan tahun ke depan.

Apakah energi nuklir termasuk yang tidak dapat terbarukan? Hal ini masih merupakan perdebatan, yang jelas untuk mempergunakan energi ini dibutuhkan uranium yang tidak terdapat di semua negara dan juga perlu ditambang.

Dan untuk sumber energi yang dapat terbarukan adalah: tenaga air, sinar matahari, panas bumi, tenaga angin, biomass, biofuel,  gelombang-pasang surut- arus dalam air laut serta hidrogen.

Tenaga air sudah sangat umum dipakai diberbagai negara. Sinar matahari atau energi surya dimanfaatkan dengan mengubah sinar matahari menjadi listrik dengan mempergunakan solar cell atau photovoltaik. Perusahaan minyak bp sangat aktif dalam mengembangkan teknologi ini, dan membentuk anak perusahaan yang dinamakan BP Solar.

Panas bumi atau geothermal menjadi semakin populer sebagai sumber energi, di tahun 2000 hanya 21 negara yang memanfaatkannya dan pada tahun 201o akan mencapai 46 negara. Tenaga angin sebagai sumber energi telah banyak dipakai di negara-negara Eropa seperti Jerman, Spanyol, Perancis, Portugis, Inggris, Italia, Belanda dll.

Biomassa lebih banyak berhubungan dengan proses fermentasi yang menghasilkan biogas, dan ini bisa didapatkan dari pupuk kandang, sambah organik dan limbah pertanian. Sedangkan biofuel adalah bahan bakar padat, cair atau gas yang dihasilkan dari tanaman seperti tebu, gandum, jagung, kelapa sawit dan singkong. Biofuel bisa berupa biodiesel, bialcohol dan biogas.

Gelombang, pasang surut dan arus dalam air laut juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Energi dari air laut ini telah dimanfaatkan terutama energi pasang surut sejak ribuan tahun di Eropa untuk menggerakkan penggilingan. Energi gelombang permukaan air laut mulai dimanfaatkan di Portugis dan Inggris, sumber energi ini belum banyak dimanfaatkan.  Arus dalam air laut sebagai sumber energi banyak dipakai di beberapa  negara seperti Inggris, Kanada, Norwegia dan Australia.

Hidrogen sebagai sumber energi harus diubah dahulu dengan menggunakan fuel cell. Fuel cell adalah sebuah peralatan pengubah energi dengan memanfaatkan reaksi kimia dari pencampuran gas hidrogen yang berasal dari air dengan oksigen berasal dari udara. Perusahaan minyak Shell telah melakukan investasi untuk mengembangkan kesempatan bisnis di energi hidrogen melalui anak perusahaannya Shell Hydrogen.

Sumber energi di Indonesia dan Kebijaksanaan Energi Nasional

Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dan terhampar didaerah katulistiwa merupakan negara yang berlimpah dengan kekayaan alamnya. Sejauh manakah pemanfaatan anugerah Tuhan ini bagi kemakmuran rakyatnya akan terus dipertanyakan. Bahkan di dalam UUD ’45 tercantum  di pasal 33, ayat 3 tertulis “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Apakah hal ini sudah dijalankan sebagaima mestinya? Kali ini kita tidak akan membahas persoalan ini, tetapi akan berbicara tentang kekayaan sumber energi yang Indonesia miliki. Kemudian apa kebijaksanaan pemerintah untuk menindak-lanjuti potensi kekayaan sumber energi tersebut.

Kekayaan sumber energi di Indonesia sangatlah melimpah, mulai dari sinar matahari yang terus bersinar (tentu saja kecuali di malam hari) sampai dengan geothermal yang tersimpan di bumi Indonesia. Mari coba kita lihat sumber energi apa saja yang bisa dimanfaatkan di Indonesia:

1. Sumber energi yang tidak dapat terbarukan

Cadangan minyak mentah kita diperkirakan sebesar 9,1 miliar barrel (terbukti sekitar 4,6 miliar dan sisanya potensial. Terus terang agak sulit mencari data yang tepat), naik 5,5% dibanding tahun 2005. Dari cadangan minyak yang ada, kita bisa menggunakannya sampai 28 tahun kedepan dengan asumsi produksi kita adalah 900 ribu barel per hari dan cadangan minyak potensial sudah menjadi terbukti. Kalau diambil yang cadangan terbukti saja, maka minyak kita hanya bisa untuk 14 tahun kedepan. Semakin tinggi produksi, maka semakin cepat cadangan minyak akan menipis. Oleh karena itu usaha untuk mendapatkan cadangan pengganti (reserve replacement) sangat penting.

Pemerintah baru saja menawarkan 26 wilayah kerja baru untuk migas. Untuk keseluruhan wilayah kerja baru tersebut diperkirakan memiliki potensi sumber energi migas sebesar 30 hingga 1.089 MMBOE. Semoga ini akan ikut menambah cadangan terbukti minyak kita.

Cadangan gas bumi Indonesia (tahun 2004) untuk yang terbukti dan potensial sebesar 182.5 TCF (terbukti sekitar 98 TCF), yang dapat diproduksi selama 64 tahun. Dan ini tentunya tergantung dari volume penggunaannya. Ketika pemanfaatan energi dari gas ditingkatkan untuk menggantikan energi minyak di beberapa sektor kehidupan, maka semakin cepat pula menipisnya cadangan gas. Namun sekarang sedang dijajagi lebih lanjut tentang pemanfaatan gas yang terdapat dalam lapisan batu bara.

Gas yang terdapat dalam lapisan batu bara biasa disebut dengan coal bed methane (CBM). Indonesia memiliki cadangan potensial CBM sebesar 453,3 TCF, yang berada di Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Sulawesi.

Sumber energi batubara cukup melimpah yaitu 61,3 miliar ton dengan cadangan 6,7 miliar ton. Ini dapat mencukupi kebutuhan energi dari batubara selama sekitar 140 tahun. Beberapa teknologi sedang dijajagi untuk memanfaatkan batu bara sebagai bahan bakar cair atau gas. Liquified coal dan gasified coal akan menjadi salah satu pilihan energi di masa depan.

Untuk methane hydrate sedang diperdebatkan bahwa penggunaan methane hydrate dapat menyebabkan global warming semakin parah. Untuk perlu dikehatui bahwa Indonesia dan India memiliki 60% potensi methane hydrate di Asia.

Pemanfaatan teknologi nuklir masih menjadi perdebatan di Indonesia. Sebenarnya Indonesia juga memiliki tambang uranium.Tambang uranium di Kalimantan memiliki kandungan mencapai 24 ribu ton yang setara dengan kebutuhan listrik 9.000 megawatt. Teknologi ini mungkin bisa dipakai cadangan apabila benar-benar diperlukan. Namun tentunya Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam teknologi ini.

2. Sumber energi yang dapat terbarukan

Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki garis pantai yang panjang. Pemanfaatan gelombang air dan pasang surut air laut perlu menjadi perhatian sebagai alternatif sumber energi. Pada umumnya angin di sepanjang pantai juga cukup kencang karena perbedaan tekanan udara di laut dan di darat.

Dengan letak geografis di katulistiwa, tentunya Indonesia memiliki sinar matahari yang berlimpah ruah. Dengan semakin murahnya piranti photovoltaic, maka penerapan teknlogi untuk memanfaatkan energi surya juga semakin murah. Indonesia telah memanfaatkan energi ini, tetapi belum dalam ukuran besar.

Indonesia sebagai negara agraris tentunya tidak akan mendapatkan kesulitan untuk menghasilkan biofuel dan biomassa. Pemanfaatan biomassa di pedesaan akan sangat membantu untuk menyediakan energi bagi para petani. Tentu saja ini untuk daerah yang belum terjangkau listrik. Namun ini harus hati-hati penerapannya, karena kalau tidak diatur dengan benar maka banyak dilakukan pembukaan hutan dengan alasan menyediakan biofuel. Yang pada akhirnya akan memberikan dampak negatif pada lingkungan

Tenaga air telah banyak dimanfaatkan di Indonesia. Banyak contohnya seperti di Waduk Jatiluhur, Bendungan Asahan, Waduk Karangkates, Waduk Gajah Mungkur dll. Energi ini dibutuhkan tersedianya air yang melimpah. Beberapa waduk mengalami pendangkalan karena banyaknya penebangan di hulu sungai. Oleh karena itu penyediaan lahan untuk biofuel harus memperhatikan hal ini.

Potensi panas bumi Indonesia sangatlah besar, yaitu mencapai 27,000 MW dan ini merupakan 40% potensi panas bumi dunia. Beberapa PLTP (Pembangkit Listrin Tenaga Panas bumi) telah dibangun untuk memanfaatkan sumber energi ini, namun itu masih hanya memanfaatkan 783,4 MW atau 4,2 % dari potensi yang ada.

Pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi di Indonesia masih dalam tahap penelitian. Penerapan teknologi ini mungkin masih agak lama, karena perbandingan antara energi  dengan biaya untuk menghasilkan energi belum ekonomis.

Nah dilihat dari perincian di atas, betapa besar kekayaan sumber energi yang ada di Indonesia. Sejauh manakah pemanfaat sumber energi yang ada untuk memenuhi kebutuhan energi nasional? Pemerintah  pada tahun 2006 telah mengeluarkan Kebijaksanaan Energi Nasional (KEN) melalui Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006.

Secara singkat, tujuan dari KEN ini adalah ingin mewujudkan bauran sumber energi di Indonesia sebagai berikut:

1. Minyak bumi menjadi kurang dari 20%

2. Gas bumi menjadi lebih dari 30%

3. Batubara menjadi lebih dari 33%

4. Bahan bakar nabati (biofuel) lebih dari 5%

5. Panas bumi menjadi lebih dari 5%

6. Energi baru dan terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari 5%

7. Batubara yang dicairkan (liquified coal) menjadi lebih dari 2%

Terlihat di atas memang dengan jelas bahwa kita ingin mengurangi sumber energi dari BBM maksimum sebesar 20% pada tahun 2025. Hal ini sudah memang sepatutnya diterapkan, karena cadangan minyak yang telah menipis dan untuk import juga akan memberatkan anggaran negara. Ingat bahwa hanya dalam waktu 14 tahun ke depan kita bisa memanfaatkan cadangan terbukti minyak kita saat ini, apabila tidak ada tambahan cadangan terbukti berikutnya.

Usaha untuk mengurangi ketergantungan kepada BBM harus dipercepat. Kebijaksanaan konversi minyak tanah ke gas kelihatannya agak tergesa-gesa, sehingga pelaksanaan dilapangan tidak berjalan dengan sebagaima mestinya.

Usaha ini sebenarnya juga harus dibarengi dengan pengurangan tingkat kemacetan di kota-kota besar, terutama Jakarta. Betapa besar kerugian karena kemacetan ini, termasuk penggunaan BBM yang sia-sia. Penggunaan BBG perlu digalakkan lagi, terutama untuk angkutan umum dan angkutan instansi pemerintah.

Mungkin pemberian insentif untuk penyediaan mobil hybrid atau BBG perlu diberikan, sehingga akan membantu mengurangi ketergantungan pada BBM.

Kembali kepada KEN di atas, dapat dilihat bahwa ketergantungan kepada bahan bakar fosil masih 80% lebih. Dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh bahan bakar fosil harus pula dipikirkan. Karbon dioksida yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil harus dikurangi, hal ini bisa dilakukan dengan penangkapan karbon dioksida atau CO2 sequestration (capture and storage).

Jadi dapat dilihat bahwa masalah energi adalah masalah yang sangat kompleks, dan ini juga menyangkut ketahanan nasional. Jadi bisa dimengerti bahwa China dengan penduduk yang jauh lebih besar dari Indonesia begitu gencar mencari sumber migas kemana-mana, membangun PLTA raksasa, dan akan segera mengadopsi teknologi coal-to-liquid.

Pemilihan energi yang tepat tidak hanya bisa tergantung kepada satu sumber energi, namun merupakan suatu bauran energi yang optimum. Optimum disini juga harus memperhitungkan dampak terhadap lingkungan. Usaha ini juga perlu melibatkan rakyat Indonesia sebanyak mungkin. Komunikasi dan sosialisai masalah energi kepada masyarakat akan membantu partisipasi yang sepenuhnya, sehingga mereka tidak selalu merasa menjadi objek penderita.

Salam …

Sumber : Wikipedia, BP Migas, Kompas, Rovicky blog, IATMI


Responses

  1. Mas bas. Saya kok baru dengar ya coal bed methan. Apasih mas. Dimana barangnya dapat ditemukan. terus bagaimana cara mengambilnya untuk dapat dimanfaatkan. Terus bagaimana dengan teknologinya. Mahal ngak mas, apabisa lebih murah dari gas alam

  2. @myson
    Coal-bed methane (CBM) adalah gas metana yang tersimpan dalam lapisan batubara. Untuk memproduksi gas ini cara pengeborannya hampir sama dengan pengeboran sumur gas pada umumnya. Namun untuk CBM akan lebih dibutuhkan banyak sumur, dan tahap pertama akan banyak memproduksi air.

    Air kemudian akan diinjeksikan ke dalam tanah atau dibuang begitu saja ke sungai, tergantung dari kualitas air yang diproduksi. Proses de-watering ini tergantung dari besarnya gas metana yang ada. Perhatikan bahwa ini terbalik dengan proses produksi di sumur gas biasa, yang setelah gas habis atau tergantung dari relatif permeabilitasnya, air baru muncul kemudian.

    CBM di Indonesia banyak di Sumatera Selatan dan Kalimantan. Medco tertarik untuk melakukan memproduksi CBM, tapi masih menunggu regulasi yang jelas dan insentif yang menarik dari PSC.

    Kalau dilihat dari teknology-nya sebenarnya lebih murah, dan pada umumnya kedalaman sumur lebih dangkal dari sumur gas alam. Namun yang menjadi masalah utama adalah penanganan air yang diproduksi pada tahap awal.

    CBM telah banyak dipakai di USA dan Canada. India dan China mulai banyak memanfaatkan energi ini juga. Saat ini perusahaan saya di Kazakhstan lagi mempersiapkan contract dengan perusahaan setempat untuk study ttg CBM.

  3. Makasih mas atas penjelasannya. Tapi nanya lagi.
    Ada yang bermain dikepala saya mas, berapa harga cbm ini, apa bisa lebih murah dari gas alam. Masalah dewatering katanya sangat menyita waktu, terutama untuk Indonesia, yang batu baranya pada peringkat low rank.
    Terus bagaimana proses keluarnya cbm tersebut dari batu-bara. Yang saya baca cbm tersebut terperangkap dalam batu-bara.
    Tolong saya mas, saya kok kepingin tau soal cbm ini.
    O..ya, medco sudah sampai dimana saat ini mas?.
    Makasih banget atas tambahan artikelnya

  4. @myson,
    terus terang saya bukan ahli di bidang ini. Tapi saya bisa coba membantu anda. Untuk murah tidaknya, akan tergantung dari biaya untuk produksinya. Harga gas sekarang juga semakin tinggi, karena kebutuhan gas di China dan India. Untuk memenuhi kebutuhan gas CBM menjadi alternatif utama.
    Drilling sumur CBM akan relatif lebih murah karena pada umumnya sumur lebih dangkal, tetapi hasilnya tidak bisa langsung didapatkan karena de-watering process. Hal ini kebalikan dari sumur gas biasa yang akan mengalami munculnya air ketika saturasi gas dalam sumur semkain kecil dibanding saturasi air.
    Medco baru saja menanda-tangani kontrak (bisa dilihat di detik.com atau sumber yang lain)dan mendapatkan bagi hasil 45% (55% untuk pemerintah) dengan alasan de-watering diawal produksi.
    CBM sangat banyak di Amerika (terutama Colorado) dan Canada.

  5. Mas saya tertarik dengan cbm ini , tapi kalau boleh nanya didalam air hasil proses dewatering apa kandungannya?

  6. @Nessy,
    kandungan air dari CBM dewatering tergantung dari masing-masing cekungan (basin). Yang jelas pengolahan air (water treatment) untuk air dari proses dewatering sangat diperlukan tergantung dari kandungannya.

    Air CBM dewatering pada umumnya mengadung sodium (Na), bicarbonate (HCO3) dan chloride (Cl).Di Amerika air dari proses dewatering ada yang asin (saline)dan ada yang mengandung elemen yang perlu diolah, namun ada juga yang kualitasnya mendekati kualitas air minum.

    Pada umumnya air yang diproduksi dari CBM dewatering kualitasnya lebih bagus dari air yang berasal dari sumur minyak dan gas.

  7. correct me if i’m wrong, cara mendapatkan cbm pdhl terperangkap? biasanya untuk cbm itu model drillingnya horizontal, teknologinya lebih sederhana dan murah, tapi krn harus menggali banyak sumur dan areanya harus luas, investasi bisa mahal juga. adanya CBM itu di ruang antara batu bara yg satu dengan yang lainnya. jika dimisalkan batu bara dalam tanah itu spt kerikil dlm gelas, maka ruang antara kerikil yg satu dg yg lain itulah cbm berada. tanya dong, bgmn regulasi di negara lain utk cbm? soal harga, pembeli, split n fiscal term-nya… boleh nyontek publikasi yang ditengok untuk reserve-nya cbm dan harganya? tks.

  8. Ninik, untuk membantu kesuksesan project CBM, field study perlu dilakukan. Tahap eksplorasi akan membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun untuk tahap development akan bisa lebih murah.
    Untuk horizontal drilling, dengan teknologi yang ada sekarang ini akan cukup mahal. Secara geomechanic, wellbore stability sumur CBM tidak stabil. Kalau memakai teknologi sekarang akan ada kemungkinan peralatan driling (drill string) akan terjepit/stuck. Biaya lost in hole akan sangat tinggi.
    Saat ini sedang dikembangkan lateral drilling dengan teknologi yang lebih murah tetapi cocok untuk pengeboran lapisan batubara.
    Untuk pengelolaan CBM, harga dan contract term bisa dicari di website.
    Barusan saya lihat di IPA website ttg Luncheon Talk mengenai CBM sbb:

    PROFESSIONAL DIVISION
    LUNCHTIME TALK
    DATE : Tuesday, May 6, 2008
    TIME : 11:45 Hrs.
    VENUE : Dua Mutiara Ballroom 1, Level 2
    JW Marriott Jakarta
    Jln. Lingkar Mega Kuningan Kav E.1.2 No. 1 & 2
    Jakarta 12950
    SUBJECT : “The Building Blocks for a successful Coal Bed Methane (CBM) Industry
    in Indonesia ”
    SPEAKER : Peter Cockcroft
    COST : Rp. 250.000,-(IPA Prof. Div. Member) or Rp. 275.000,- (Non
    IPA Prof. Div. Member) excluding drinks, payable at the entrance of the
    room; CASH PAYMENTS ARE REQUIRED.
    Summary:
    1. What is CBM?
    2. Where is it produced?
    a. USA
    b. Canada
    c. China
    d. Australia
    e. India
    f. Europe
    3. Indonesian Prospects
    a. Basins
    b. Markets
    4. CBM Reserves determination
    a. Coal thickness/area
    b. depth
    c. Rank
    d. Gas Content and quality
    e. Producibility
    f. Drainage radius
    g. Water content
    h. The importance of certification
    5. Commerciality Issues
    a. Risks and uncertainties
    6. Infrastructure
    a. Existing markets
    b. Pipelines
    c. If no market – what are the
    opportunities?
    7. Is Management Important?
    8. Gas Pricing in Indonesia – can it support
    CBM?
    9. Environment
    a. What are the major issues?
    10. Regulatory and Fiscal
    a. Will the Indonesian oil and gas
    regulatory experience be a help
    or a hindrance?

  9. pak..saya boleh bertanya..
    apakah CBM itu sama dengan gas yang terjebak dalam laut?
    terima kasih

    • fikry,
      CBM adalah coal bed methane, gas methana yang didapatkan dari lapisan batubara. Sedangkan gas yang terjebak dalam laut adalah gas hydrate.

  10. pak gas methane hydrate tahap eksplorasinya bagaimana dan bagaimana cara perhitungan cadangannya??serta produksinya jg..
    lalu untuk CBM bagaimana perhitungan cadangan dan proses produksinya seperti apa???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: