Oleh: sbaskoro | Februari 18, 2008

Simulator banjir untuk Jakarta

Waktu saya kecil dulu sering mendengar lagunya Waljinah yang berjudul Jangkrik Genggong, salah satu kalimatnya berbunyi : “Semarang kaline banjir, ja sumelang ra dipikir ….”

Daerah Simpang Lima  merupakan langganan banjir, dan untungnya dulu saya naik Vespa. Busi Vespa terletak agak tinggi dan tertutup dengan kap mesin, jadi lebih tahan banjir dibanding sepeda motor lainnya.

Kini berita banjir lebih banyak terdengar di Jakarta, yang tentunya lebih menyedot perhatian karena Jakarta adalah ibu kota RI. Yang beberapa waktu yang lalu sempat lumpuh karena dilanda banjir. Jalan akses ke Soekarno-Hatta terputus karena banjir.

Kerugian materil tentunya sangat besar, belum dampak tidak langsung lainnya yang tidak terlihat nyata. Apakah hal ini akan didiamkan terus-menerus? Apakah pernyataan bahwa banjir ini merupakan bencana tahunan atau lima tahunan sudah cukup untuk tidak berbuat apa-apa lagi?

Kita harusnya belajar banyak dari Belanda, yang mampu mengontrol permukaan air di dalam negaranya. Beberapa anak buah saya yang orang Belanda (waktu kerja di Belanda tahun 1997-1999) bilang kalau pembangunan Kanal North Sea (dekat Beverwijk & Ijmuiden) dan bendungan panjang Afsluitdijk (sekitar 32 km) dekat Den Oever uangnya kebanyakan adalah dari hasil penjajahan di Indonesia.

Kedua infrastruktur tersebut sangat berperan penting dalam mengatur permukaan air di Belanda. Kemudian setelah terjadi banjir besar di sekitar Zeeland tahun 1953, dibangun infrastruktur lain dibawah project yang dikenal dengan nama Delta Works.

Kita perlu belajar banyak dari mereka. Mungkin tahap awal adalah mempelajari daerah mana saja yang akan terlanda banjir ketika debit air sudah melebihi daya tampung sungai yang ada di Jakarta.

Hal ini bisa dilakukan dengan simulator banjir. Data masukan untuk simulator ini cukup banyak, mulai dari perubahan permukaan air laut, penurunan permukaan tanah, debit air yang datang dari sekitar Jakarta (seperti dari Bogor), daya serap tanah terhadap air, daya tampung sungai-sungai yang ada di Jakarta, peta kontur Jakarta dll.

Untuk pengaruh perubahan permukaan air laut, saya mencoba dengan Google Earth flood map. Saya buat seakan-akan permukaan air laut naik 3m, dan terlihat daerah Monas ada genangan air dan juga beberapa daerah yang lain. Terbanyak di sekitar Jakarta Timur. Sejauh mana akurasi peta banjir ini? Mereka yang ahli dibidang ini tentunya bisa menjawab pertanyaan ini.

sea-level-rise-3m.jpg

Saya coba search beberapa simulator banjir lainnya, yaitu : http://www.geolas.com/Pages/Floodsim.html , http://sim.sagepub.com/cgi/content/abstract/4/2/86http://www.gisdevelopment.net/proceedings/mapmiddleeast/2006/emerging%20applications/mm06eme_183.htm, dll . Mungkin ini bisa menjadi masukkan untuk teman-teman di planologi dan teknik sipil hidrologi, yang akan banyak berperan dalam project ini.


Responses

  1. buat cewek banjir..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: