Oleh: sbaskoro | Mei 12, 2009

Pengenalan Indonesia kepada dunia, dimulai dari pendidikan

Lama saya nggak menulis di blog ini, ada rasa kerinduan tersendiri untuk bisa berbagi pemikiran. Beberapa waktu yang lalu kami menghabiskan liburan di Malaysia dan Thailand. Sebenarnya Indonesia tidak kalah dibandingkan ke dua negara tetangga kita. Namun sayangnya Bali yang merupakan bagian dari Indonesia, jauh lebih dikenal daripada Indonesia. Adakah kesalahan dalam mengenalkan Indonesia kepada dunia?

Dulu setiap kali CNN menayangkan iklan Malaysia Truly Asia, masih diiringi musik dengan liriknya. Sekarang musik Malaysia Truly Asia sudah tidak asing lagi ditelinga orang, tanpa lirik pun orang sudah tahu itu adalah promosi Malaysia. Pencitraan Malaysia Truly Asia dengan promosi itu saya nilai sangat berhasil. Dan baru-baru ini saya terbang dengan Malaysia Airlines (MAS), yang memiliki kode penerbangan MH. Kembali saya dibuat kagum dengan usaha pencitraan Malaysia di mata dunia. Di ‘boarding card’ MAS tertulis (kalau tidak salah): MH – is not just an airline code, it is Malaysian Hospitality. Ini memperlihatkan keahlian  mereka membangun merek nasional. Belum kalau kita berbicara masalah Petronas yang jauh lebih dikenal daripada Pertamina, juga kemampuan Malaysia Airport Holding Berhad dalam mengelola KLIA untuk menjadi salah satu airport terbaik dunia.

Apakah saya merasa rendah diri dengan Malaysia? Tentu saja tidak, karena dulu sebenarnya Malaysia belajar dari Indonesia. Lalu mengapa kita berjalan di tempat, sedangkan mereka sudah jauh tinggal landas. Dimanakah kesalahan utama bangsa kita dalam mengelola negara ini?

Dulu Indonesia banyak mengirim guru dan dosen ke Malaysia, dan Malaysia mengirim mahasiswa-nya ke Indonesia. Sekarang kiblat pendidikan mereka sudah ke Eropa dan Amerika, tapi untuk kedokteran kelihatannya mereka masih melihat ke Indonesia. Saya pernah ketemu mahasiswa Malaysia yang kebetulan anggota UMNO muda, dalam perjalanan ke Jakarta untuk belajar kedokteran di salah satu universitas swasta.

Apakah pendidikan memang menjadi kendala utama bagi bangsa ini untuk maju? Apabila kita melakukan kilas balik sejarah bangsa dan negara ini, semua para pemimpin pergerakan kemerdekaan adalah orang-orang yang cerdik pandai. Dimulai dari dr. Wahidin, Soetomo, dr. Tjipto, M. Yamin, Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, Soekarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara dll, semua adalah orang-orang yang berpendidikan. Tanpa para pahlawan tersebut, mungkin negara ini tidak akan pernah berdiri dan berdaulat.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang ini? Pendidikan sudah lebih menjadi suatu komoditi dagang, bukannya sebagai prasarana untuk membangun bangsa dan negara. Kapankah pendidikan menjadi prioritas utama bangsa ini? Usaha Yohannes Surya dalam memperkenalkan fisika kepada generasi muda, merupaka salah satu mata rantai dalam memajukan pendidikan. Namun ini masih sekedar berhubungan dengan kemampuan nalar, bagaimana dengan pendidikan manusia seutuhnya itu sendiri?

Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani …. terima kasih Ki Hadjar Dewantara. Semoga bangsa ini segera menyadari pentingnya arti pendidikan, agar tidak semakin terpuruk di kemudian hari.


Responses

  1. saya senang ada yang masih respect dengan bangsanya sendiri.. karena menurut hasil pengamatan saya banyak warga negara indonesia yang tampaknya lebih bangga dengan produk2 luar negeri ketimbang produk buatan bangsa mereka sendiri. kita harus mengubah apa yang namanya pola pikir bangsa ini supaya mau menyadari apa yang kita miliki lebih bervariasi dari bangsa lain dan berbanggalah menjadi warga negara indonesia.

  2. GiLc39 Excellent article, I will take note. Many thanks for the story!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: